Tuesday, August 16, 2011

Another confession

Ok, saya ngaku kalo bulan ini adalah bulan paling boros sedunia. Padahal saya udah wanti-wanti sama diri saya sendiri untuk sedikit menahan keinginan untuk membeli apapun. Catat, APAPUN. Udah 3 bulan belakangan ini saya sukses mengencangkan ikat pinggang sekuat-kuatnya. Bahkan saya sama sekali mati rasa jika ada tulisan SALE di mall yang sedang saya datangi. Saya memang sudah niat untuk tidak selalu jalan-jalan ke mall jika memang tidak mendesak sekali. Tapi taukah apa yang terjadi? Ternyata mengatur keuangan itu sama prinsipnya seperti menjaga relationship. Dari sekian banyak teori soal relationship, cuma satu ini yang saya pegang dan ingat selalu. Kata buku Chicken Soup for the soul, “Menjaga hubungan itu ibarat teori pasir. Kalau kita menggenggamnya terlalu erat, si pasir ini akan keluar dan berjatuhan dari sela-sela jari kita. Tapi sebaliknya, kalau pasirnya digenggam dengan biasa-biasa saja, pasir itu akan tetap ada dalam genggaman kita”. Nah sama halnya dengan ngatur uang kan? Kalau saya menggenggam uang banyak dan berjanji pada diri saya untuk berhemat sehemat-hematnya, maka inilah yang terjadi. Uangnya keluar semua bahkan untuk benda yang tidak penting sekalipun. Malah yang penting ga kebeli. Parah kan?
Lalu saya pikir-pikir lagi, kenapa saya bisa jadi sangat brutal bulan ini padahal saya tidak pernah menginjakkan kaki di mall dan akhirnya saya temukan jawabannya. ONLINE SHOP yang menggila di bbm grup, bagaikan racun yang diam-diam menghisap dengan lincahnya. Menghisap uang saya tentunya. Udah saya decline, accept lagi, accept lagi. Ah tapi saya juga emang murahan sih,ga bisa liat barang-barang lucu dan ga perlu pergi ke mall. Sambil tidur-tiduran bisa, bahkan di kamar mandi pun barang-barang lucu itu bisa saya nikmati. Jadi ternyata kalo kita tergolong orang yang ga tega nolak dan punya sifat boros, itu memang bukan kombinasi bagus untuk meng-accept online shop di bbm grup.
Godaan memang tidak pernah berhenti selama kita masih hidup ya? Salut sama orang-orang yang ngulik cari duit. Lah saya? Bisanya buangin mulu. Eh tapi, saya menikmatinya kok. Jadi, belajar dari kesalahan saya diatas, mulai sekarang saya mau ganti mind set ah, ga usah hemat-hematan, pokonya shop till you…. die! Cheers!

Thursday, July 21, 2011

31

Mudah-mudahan "Dia" tidak mencabut gemuruh kerinduan dalam diri ini.
Amin

Saturday, April 30, 2011

Menulis itu tidak pernah mudah

Kalau ada yang bertanya apa passion saya? Saya akan mantap menjawab : M-e-n-u-l-i-s. Tapi bukan berarti hal itu mudah bagi saya. Dulu saya punya cita-cita, disela-sela waktu kerja saya, saya bisa menulis, trus jadi 1 buku deh. Tapi ternyata gagal. Terus cita-citanya sedikit dimodifikasi. Sambil menunggu kelahiran anak pertama saya, saya akan gunakan waktu saya untuk menulis sebuah karya. Sempat jalan sih beberapa bulan, tapi kemudian rumah saya dimasukin maling dan laptop saya pun raib. Dan saya ga punya back up nya. Walaupun sempet ngedrop karena laptop itu adalah hidup saya (semua file dari tahun 2003 ada disitu semua ), tapi saya mencoba bangkit kembali dan menyemangati diri saya sendiri. Saya mulai menulis sedikit-sedikit, tapi entah karena bawaan hamil tua yang membuat saya cepat lelah, entah memang pada dasarnya saya kurang istiqomah, akhirnya saya sama sekali tidak produktif pada saat itu. Seolah-olah badan saya nempel di kasur dan tidak mau bergerak. Jadi gagal lagi deh cita-citanya. Tapi dalam hati semacam ada yang berbisik, “Nanti deh pas punya anak, kan bisa bagi waktu”. Hasilnya? Boro-boro mau nulis, punya “me time” aja susahnya setengah mati. Punya anak tuh ternyata harus fokus. Ga bisa deh ngurus anak sambil ngerjain yg lain, atau pikirannya kemana-mana. Hasilnya ga akan maksimal! Apalagi Kilau tambah gede, dia makin menuntut perhatian yang banyak. Kalau lagi maen berdua dan disela-sela itu saya pegang BB, dia akan berubah ngamuk dan ngadat, bahkan beberapa kali BB saya dilempar! Anak 14 bulan saja tau bahwa BB memang bisa merusak suasana dan membuat orang jadi lupa berinteraksi dengan orang dekatnya. Bagus juga sih, membuat saya juga ga lebay sama si BB. Oya, jangan harap juga bisa buka laptop kalo lagi berduaan dengannya. Pernah waktu deadline hampir tiba, saya curi-curi membuka laptop pada saat dia sedang asyik bermain dengan bukunya. Tapi beberapa menit kemudian, saat saya baru saja menulis beberapa kalimat, dia sudah mulai menghampiri laptop saya, kemudian langsung ditutupnya begitu saja sambil memasang muka protes. Hiyaaa..ternyata setelah punya anak, tantangannya makin besar aja nih buat nulis. Satu-satunya waktu saya adalah pada saat malam, setelah dia tidur, dengan catatan, sayanya juga ga cape karena seharian bermain dengan Kilau. Main sama anak kecil kan cape banget, karena mereka energinya ga abis-abis, malahan lebih cape daripada ngegym! Buat sekarang sih ga muluk-muluk deh, boro-boro tulisannya jadi buku. Masukin tulisan sebelum deadline aja susahnya setengah mati dan selalu ngerasa kurang maksimal. Kalo boleh nawar sama Tuhan, satu harapan saya : mudah-mudahan tulisannya kepake terus sampe ntar-ntar. Itu aja udah cukup. Boleh ya? Plis tuhan..

Monday, March 07, 2011

Dear Michael Buble

Dear Michael Buble,
Sepertinya rencana tidak berjalan seperti yang saya mau. Saya ga bisa datang ke konser kamu besok di Singapore. Tidak seperti rencana awal yang sudah saya susun. Karena ternyata meninggalkan Kilau ga semudah yang saya bayangkan,walopun tiket sudah ditangan sekalipun. Dia lebih membutuhkan kehadiran saya, dibanding kamu. Jadi saya mengalah saja, karena saya yakin di tour album kamu berikutnya saya akan datang, bersama Kilau yang sudah hafal semua lagu kamu karena setiap malam, sebelum tidur, video clip kamu diputar bolak balik sampai dia tertidur lelap.

Sukses ya buat konsernya besok. Kamu pasti tampil keren, dengan setelan jas yang gagah seperti biasanya, dengan panggung yang ditata simple tapi terkesan spektakuler karena pencahayaannya yang bagus, dengan band pengiring yang luar biasa, dan suara kamu yang bikin puluhan juta orang tergila-gila sekaligus membuat cewe-cewe berteriak histeris.

Saya doakan dari sini. Goodluck dear…See you when I see you. XOXO

With love,
Anggi

Wednesday, February 23, 2011

Keborosan yang menggila

Perempuan mana sih yang ga suka belanja? Kalo ada yang menjawab ga suka, mungkin bisa dikategorikan perempuan langka. Dulu sebelum menikah, saya borosnya luar biasa. Apa aja yang kata mata saya lucu, ya saya beli. Sampai akhirnya menyesal belakangan, karena sebenarnya saya ga butuh barang yg tadi saya beli dan itu sering terjadi. Semenjak menikah, kadar keborosan saya lumayan berkurang. Kalo dipersentasekan, ya berkurang 0,1%-an lah. Itu juga susahnya luar biasa. Kadang saya pake backstreet-backstreet-an sama pasangan kalo saya belanja sesuatu, walopun akhirnya ketauan juga. Pasangan saya sih kayanya udah pasrah aja. Ya mau gimana lagi,..udah dibeli juga kan? :D

Sampai akhirnya, pasangan saya punya solusi biar saya ga seenaknya buang-buang uang tanpa mikir panjang. “Mulai sekarang, kamu aja yang pegang semua duit ya, dan dimenej lah buat semua keperluan kita” katanya. Saya pun meng-iyakan. Hari demi hari pun berlalu, dan kayaknya sih semua berjalan baik. “Ga sesulit yang dipikirin ah megang duit itu” kata saya dalam hati, sambil melakukan window shopping. Karena sudah seminggu saya berhasil menghemat, ga ada salahnya dong saya menghadiahi diri saya sendiri. Ambil ini, itu dan anu. “Ya,paling berkurang dikit uangnya, lagian duit suami kan duit saya juga” kalimat pembenaran yang selalu muncul dikala sedang memegang ATM milik pasangan. Besoknya saya melakukannya lagi, lagi dan lagi. Sampai akhirnya saya inget banget kalo saya belum bayar tagihan air,listrik, telfon, juga internet. Karena kebiasaan membayar tagihan kartu kredit milik saya sendiri saja, saya sedikit amnesia dengan tagihan lainnya. Alhasil, baru 10 hari memegang uang, dan uangnya ludes des des. Hanya bersisa beberapa puluh ribu. Akhirnya saya panic sendiri dan ga ada jalan lain selain jujur pada pasangan soal kondisi kritis ini. Setelah saya ceritakan semuanya, detik itu juga saya resmi dipecat jadi manajer keuangan di rumah 

Tapi ceritanya belum berakhir disitu saudara-saudara. Godaan lebih dahsyat lagi datang ketika saya sudah punya anak. Saya paling ga tahan liat sepatu anak yang lucu-lucu. baju yang lucu-lucu, dan bando yang lucu-lucu. Oh ya, juga mainan yang lucu-lucu dan perlengkapan makan yang lucu-lucu juga. Semuanya lucu! Gilingan emang wahai kau para produsen! Kepanikan selalu terjadi kalo saya lagi ada di toko bayi. Niatnya soh ga akan belanja, tapi selalu keluar toko dengan jinjingan belanjaan. Oh Tuhan, aku boleh deh tahan digoda sama tas dan sepatu Zara, tapi tolong jangan beri godaan pernak-pernik bayi. Lebih baik saya mengibarkan bendera putih saja. Belum lagi keberadaan online shop yang semakin menggila. Facebook ga usah disebutlah ya, secara friend saya sekarang didominasi online shop. Bahkan saya juga udah jadi langganan tetap untuk beberapa online shop. Lebih gilanya lagi adalah bbm grup. Dari 13 grup yang ada di bbm saya, 8 diantaranya adalah online shop. Itu juga saya diinvite lho, ga tau mereka dapet pin bbm saya darimana. Kebayang ga, saya ga usah cape browsing, tapi tiap saat saya bisa mengakses dan melihat foto-foto barang bayi yang menggemaskan itu dalam bb saya, dan diupdate tiap beberapa saat. Kelemahan saya makin menjadi. Saya tidak bisa menolak kalo ada foto sepatu bayi. Walopun ga dibeli semuanya, minimal membuat saya ga bisa tidur dan memutar otak gimana caranya dapet duit darimana biar bisa beli. Hhhhhh..hal-hal yang berbau dunia ini kadang terasa menyiksa dan menyebalkan. Ga kerasa, putri kecil saya sudah berusia 11 bulan dan sepatunya sudah berjumlah 16 pasang. Iya, kadang saya juga bingung mau dipake kemana sepatu-sepatu ini. Ditambah lagi ukuran kaki Kilau yang cepat membesar, jadi bisa dipastikan rugi sebenarnya beli sepatu sebanyak itu. Kalo inget harganya yang lumayan banget itu, suka keder juga sih. Tapi apakah saya kapok? Mungkin. Tapi sambil menulis ini, saya juga lagi ngintip online shop yang menjual sepatu pre-walker baby. Lucuuu bangeettt warna item putihnyaa….huaaaaaa!!!

Mudah-mudahan Kilau ga seboros Ibu ya, Nak…Ataupun kalo sama-sama boros, karena konon kata orang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, doain Ibu biar pohon duitnya ga abis-abis yaa.. 

Thursday, December 30, 2010

Selamat datang 2011 !

Apaaa??? Besok udah ganti taun lagi?? O my god..kayaknya ini taun yang paling kerasa cepet banget karena........
Ternyata setelah punya anak rasanya ga ada waktu santai buat sendiri. Semua yang ada di otak cuma mikirin Kilau, Kilau dan Kilau. Setelah punya Kilau, saya ga pernah lagi nulis karna memang banyak sekali hal lain yang mesti saya kerjain sebagai full-time mom. apalagi makin gede, waktu tidur Kilau makin bentar. Waktunya untuk mengalah :)

Kalo inget dulu, saya takut banget hamil. Liat ibu-ibu hamil, apalagi hamil tua, rasanya ngilu sendiri, takut perutnya meletusss, dan saya ga berani deket-deket..
Ternyata setelah ngalamin sendiri, masa-masa hamil adalah masa yang palingggg-palinggg menyenangkan..Bisa tiap hari makan apapun sampe puas dan makanannya pun lezat dan mahal. Belum lagi semua keinginan saya pasti dikabulkan. Heaven, rite? Jadi, doain hamil lagi gitu ya? *tarik nafas panjaaaaaaaaaaaanggg sekali* :)))

Friday, July 02, 2010

Terima kasih telah memilih kami, Kilau Kinar Hudha…




Jangan tanya bagaimana rasanya menanti kelahiran sang jabang bayi. Kalo dikasih pilihan suruh bungee jumping 5 kali, kayanya saya lebih sanggup naik bungee jumping deh..beneran!!! Soalnya ternyata tidak ada yang bisa menandingi rasa khawatir campur deg-degan saat menanti kelahiran jabang bayi. Setiap hari gerakan saya melambat, lebih hati-hati jika mau melakukan segala sesuatu. Takut ketuban pecahlah, takut ada flek dan harus segera ke rumah sakitlah, dan bayangan-bayangan aneh lainnya. Apalagi saat memasuki minggu ke 35, satu persatu teman-teman saya sudah lebih dulu melahirkan. Setiap saya cek fb nya teman-teman seperjuangan, maksudnya yang lagi hamil juga, pasti saya mendapati mereka sudah melahirkan lebih dulu. Mau ga mau jadi kepikiran. Dari yang tadinya santai, sampe akhirnya deg-degan sendiri karna dokter bilang, due datenya akan jatuh pada tanggal 14 Maret. Itupun setelah tadinya diperkirakan akhir februari, trus jadi mundur terus, sampe 14 Maret tadi. Kata dokter, kalo tanggal 14 Maret belum ada tanda-tanda juga, harus cek up ke dokter. Begitu dicek, semuanya nampak normal, memang belum waktunya saja. Kata dokter kalo mau sabar sih bisa nunggu 2 minggu lagi, tapi itupun dengan resiko tinggi, biasanya sih keracunan ketuban. Waduh, rasa jiper saya makin nambah aja, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk melakukan persalinan lewat operasi cesar saja dan jadwal operasinya hari Rabu tanggal 17 Maret 2010.

H-1 : Selasa, 16 Maret 2010
Jam 20.30
Begitu sampai di RS Hermina, saya langsung dibawa masuk ke sebuah ruangan untuk diperiksa CTG. Pemeriksaan CTG untuk mengetahui denyut jantung bayi normal atau tidak. Normalnya sih proses ini berlangsung setengah jam saja. Tapi berhubung bayi saya aktif sekali, terutama di jam-jam seperti ini, maka terpaksa pemeriksaan ini harus dilakukan berulang-ulang karena alatnya selalu bergeser, karena gerak bayinya luar biasa aktif sekali dan akhirnya baru beres jaaaaam...setengah dua pagi ajahhh…

Jam 03.00
Saya merasakan mules yang semakin sering. Oh ternyata ini toh mules yang sering dibicarakan orang-orang yang mau melahirkan. Mules yang dari kemarin sudah saya rasakan, sekarang mulai menggila. Mencoba rileks, membayangkan yang indah-indah tapi tetap saja air mata saya kadang keluar karena tidak tahan oleh rasa sakitnya. Saya mencoba tidur terlentang tapi mules itu main menjadi. Maka saya memutuskan untuk tidur dengan posisi duduk. Lumayan sih rasa sakitnya berkurang, tapi berkurangnya dikit banget..0,00 sekian deh. Disaat saya sedang mencoba rileks, tiba-tiba 2 orang suster masuk ke kamar, membawa sarung tangan dan botol berisi cairan. Tanpa basa-basi, sang suster bilang, “Bu, kita cek bukaan dulu ya, soalnya kita lihat hasil tadi, mules ibu sudah semakin sering” ujarnya sambil siap-siap memakai sarung tangan. Ugh rasanya pengen teriak “Keluaaaaaaaaaaaaaaaarrrr sekarang jugaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” deh sama suster-suster itu. Saya mending dibilang pengecut deh daripada disuruh cek bukaan. Saya trauma. Titik.  Bagian ini cukup saya aja yang tau yaa hehe
Tapi ternyata suami saya langsung bilang, “Ga usah dicek suster, dia mending nunggu sampai pagi nahan mules daripada disuruh cek bukaan. Udah, mendingan sekarang suster keluar aja. Kalo ada apa-apa, saya pasti panggil suster.” Dan suster pun menurut pada suami saya. Ahhh leganya….Terima kasih suamiku…U know me so well, huh? :p

Jam 05.30
Suster membangunkan saya dan menyuruh saya untuk bersiap-siap. Ruang operasi telah menunggu saya satu jam lagi.

Jam 06.30
Saya sudah turun ke bawah dan berganti baju dengan baju operasi. Ga ada rasa deg-degan sama sekali, malah saya dan suami sibuk ketawa-ketawa ngomongin muka suster yang bĂȘte karna diusir dari kamar semalam, dan juga ngetawain saya yang berakting ga mules padahal keringet dingin mengucur deras menahan sakit. Akhirnya waktu pun tiba, sesuai jadwal, saya akan dioperasi jam 7. Sebelum masuk ruang operasi, kami berdua berdoa bersama semoga semuanya lancar.

Jam 07.00
Saya sudah stand by di ruang operasi. Bertemu ahli anestesinya, ngobrol banyak soal obat-obatan, karena saya alergi sama keluarga penicilyn. Lalu beliau menerangkan segala efek dan dimana saja titik yang akan disuntik untuk pembiusan local. Nah rasa deg-degan baru muncul sekarang. Selain ACnya dingin banget, saya membayangkan apa yang ahli anestesi tadi bilang. Katanya nanti dari dada ke bawah akan mati rasa, terutama bagian kaki, rasanya seperti kesemutan. Daan..belum diapa-apain pun, kaki saya sudah kesemutan dan sudah mati rasa sebelah. Gini nih kalo tukang ngayal. Imajinasinya suka lebay. Baru diceritain aja udah kaya yang beneran..hehe

Jam 07.30
Saya dapat kabar bahwa dokter kandungan saya terjebak macet di jalan, sehingga operasinya agak mundur dari jadwal. Well, saya mencoba rileks sambil menyusun play list di ipod untuk operasi nanti. Ya, saya disarankan untuk membawa ipod oleh sang dokter hehe..tadinya sih kalo tangan saya tidak diikat di meja operasi, saya akan membawa blackberry saya turut serta untuk mengupdate status di twitter..seru kayanya ya, lagi operasi tapi tetep update status di twitter (kata suami saya : ”Ngaco kamu mah, bukannya berdoa malah mikirin twitter” hehe). Berdoa tetep jalan dong ya, walopun dalam hati saja. Ipod dan blackberry sih cuman buat pengalihan aja, biar ga terlalu stress.

Jam 08.00
Begitu play list rampung, sang dokter pun tiba. Hiyaaa…deg-degannya makin menjadi tapi saya mencoba pasrah sepasrah-pasrahnya. Ruang operasi yang tadinya sunyi senyap, karna saya hanya ditemani ahli anastesi dan seorang suster, sekarang hiruk pikuk dan ramai sekali seperti di pasar. Sang dokter menyapa suster dan seisi ruangan itu dengan ramah sambil menanyakan kabarnya masing-masing. Wow hebat sekali pikir saya, secara semua orang di ruangan itu memakai masker dan Cuma keliatan matanya aja  . Lalu dokter menyapa saya, dan bertanya, “Gimana nggi, play list nya udah siap?” hihihi, dan saya pun menjawab mantap, “Udah, dok..udah siap”..Dokter : “Ok deh kalo gitu..santai aja yaaa..nanti paling ada tekanan dibawah dada yang rasanya agak keras, jadi jangan kaget ya”
Dan tak lama, si suntikan pun bergerilya di tubuh saya. Setelah dua suntikan di punggung yang cukup mengejutkan rasanya, saya disuruh berbaring dan tidak sampai 10 detik, setengah badan saya sudah mati rasa. Ipod pun langsung saya nyalakan. Lagu pertama yang saya dengarkan adalah Smile-nya Charlie Chaplin yang dinyanyiin ulang di Glee..Saya sukaaaaa banget sama lagu itu. Bikin saya tenang sambil ngebayangin senyumnya anak yang akan saya lahirkan..pasti bikin saya bahagia..
Smile though your heart is aching
Smile eventhough it’s breaking
When there are clouds in the sky you’ll get by
If you smile through your pain and sorrow
Smile and maybe tomorrow
You’ll see the sun shining through
For you
Light up your face with gladness
Hide every trace of sadness
Although a tear may be ever so near
That’s the time you must keep on trying
Smile, what’s the use of crying
You’ll find that life is still worthwhile
If you just smile

Begitu lagunya beres, sayup-sayup ada suara bayi nangis. Saya langsung melepaskan earphone untuk mendengar lebih jelas. Yaa..itu suara bayi menangis dan datangnya dari ruangan tempat saya operasi, bukan dari ruangan lain. Lalu saya tanya dokter dengan ragu-ragu, “Dok, yang nangis anak saya?” dan dokter pun bilang, “Iya anak kamu nggi, anaknya perempuan, sehat dan normal..nangisnya kenceng, sip deh..alhamdulillah”

Huaaaaa…… tubuh saya langsung merinding sejadi-jadinya. Rasanya campur aduk dan ga bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Antara percaya dan tidak percaya, saya dengarkan lagi suara tangisan yang makin kencang itu, tangisan terindah yang pernah saya dengarkan dalam hidup. Subhanallah..Terdengar lebay memang buat yang belum pernah mengalaminya, tapi pasti setuju untuk yang sudah pernah mengalaminya. Ga lama, bayinya yang masih dibalut kain seadanya, didekatkan pada saya dan ditempelkan di dada saya. Jantung ini rasanya berdegup kencang sekali dan tangisan bahagia pun ga bisa saya bendung. Saya pun menangis sesenggrukan sambil ga lupa bilang subhanallah begitu melihat anak saya. Putih, pipinya tembem, matanya sipit dan mulutnya mungil sekali. Walaupun Cuma sebentar, tangisan saya ga bisa brenti, sampai si dokternya bilang, “Waduh nggi, nangisnya jangan termehek-mehek banget dong, saya ga bisa jait perutnya nih…” katanya sambil bercanda. “Luar biasa ya Nggi rasanya?” sambungnya. “Banget dok..aku terharu gini..aduuuh…huhuhiks..suster boleh minta tissue?” ujar saya. Ga lama ada suster menghampiri khusus untuk mengelap air mata saya yang mengalir deras. Belum pernah saya menangis bahagia sederas ini. Kemudian dokternya bilang :”Tahan sebentar ya nangisnya, saya mau beresin perutnya dulu nih biar rapi ya”. Saya pun menarik nafas panjang untuk menenangkan diri, sambil tersenyum bahagia, dan rasanya ingin cepat keluar dari ruang operasi untuk segera melihat anak saya tercinta dan menggendongnya erat-erat.

Urusan jait menjait beres, kemudian saya pindah ruangan, ke ruang pemulihan. Satu persatu keluarga saya pun bergiliran menjenguk. Tentunya masih dalam kondisi lemas tak berdaya dan badan mati rasa akibat obat bius bekas operasi. Yang tak terlupakan tentunya pada saat bertemu suami saya. Dia tak henti-hentinya mengucurkan air mata bahagia. Kita berdua masih takjub dan ga percaya kalo udah punya anak...Lucu deh, kita sesenggrukan bahagia aja gitu berdua memuji hasil ciptaan yang Maha Kuasa. Ga lama, Ibu saya masuk dan saya memeluknya erat sekali, tanpa bisa mengucap kata-kata apapun,hanya berderai air mata. Tapi saya yakin Ibu saya mengerti… yaahhh akhirnya saya mengerti rasanya jadi seorang Ibu, Mam…Love you, much!!!!!
Yang tak kalah hebohnya adalah saat bertemu Ayah saya. Dari kejauhan saya sudah mendengar suara tangisnya yang sesenggrukannya melebihi suami dan Ibu saya. Papa langsung memeluk saya sambil bilang “Cantik sekali cucuku..”

Tuhan, terimakasih untuk semuanya…Hadiah paling luar biasa dalam hidup saya. Dan untuk anakku, Kilau Kinar Hudha, terimakasih sudah memilih kami sebagai orangtuamu ya..Mudah-mudahan kami tidak lupa dengan amanah Tuhan untuk selalu menuntunmu ke jalan yang benar, dan bisa memberi petunjuk bagaimana mendapatkan cahaya bintang yang berkilau, (seperti arti namamu), sebagai jalan pulang.
We heart you, Kilau Kinar Hudha.